DETAIL BERITA
SOPIR TRUK JADI TERSANGKA KECELAKAAN DI PRIGEN
oleh : 2010-03-09 00:52:11 [ Redaksi ]

Kecelakaan maut di ruas jalan raya Pandaan-Prigen Sabtu (20/2) lalu masih terus diusut jajaran kepolisian Pasuruan. Saimun, 37, sopir truk kontainer penyebab kecelakaan yang menewaskan sepuluh orang itu ditetapkan jadi tersangka.
Dalam peristiwa itu, Saimun yang warga Desa Jatirejes, Nganjuk, ikut terluka di wajah dan kakinya. Sejak kejadian itu hingga kemarin (23/2), Saimun dirawat di RSUD Bangil.
Saat ditemui di ruang perawatan unit bedah RSUD Bangil kemarin, Saimun tergolek di atas drakbaar. Dia sudah sadar. Tapi, tangan kanannya terborgol. Di depan ruangan Saimun, anggota polisi Brigadir Wicaksono berjaga. Walau dijaga polisi, Saimun tetap boleh dibesuk keluarganya.
Ditanya soal kecelakaan Sabtu lalu, Saimun yang sudah sembilan tahun jadi sopir PT Erindo Mandiri, mengaku saat itu truk yang disopirinya remnya blong. "Saya tidak menyangka rem truk bakal blong. Sebab sewaktu keluar dari perusahaan, rem berfungsi dengan baik. Bahkan ukurannya di atas tujuh," kata bapak dua anak tersebut.
Tak ayal, ketika keluar dari pabriknya, Saimun yakin benar bahwa truknya dalam kondisi prima. Saat itu Saimun menyetir sendirian. Keluar dari lokasi, Saimun mengaku menjalankan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
Tiba-tiba sekitar seratus meter keluar dari lokasi perusahaan, ia merasakan ada yang janggal dengan rem truknya. "Jalanan kan menurun. Lha sewaktu saya injak pedal rem, kok sepertinya tidak ada angin," katanya sembari mengingat.
Dan seperti diberitakan sebelumnya, Sabtu itu sekitar pukul 17.30 truk kontainer milik PT Erindo Mandiri yang memuat sekitar 20 ton air mineral itu terus melaju turun di jalur Pandaan-Prigen, Desa Gambiran, Prigen. Truk melesat cepat.
Tahu ada yang tidak beres dengan kendaraannya, Saimun berusaha membanting setir. "Saya sudah coba menabrakkan truk ke pohon yang ada di pinggir jalan. Ternyata truk tak kunjung berhenti juga," katanya.
Akibatnya, truk menghantam kendaraan yang ada di depannya. Mulai dari mobil pikap, Xenia dan dua sepeda motor. Diketahui, tabrakan beruntun itu berakibat fatal.
Sepuluh orang meningal dunia. Sembilan orang meninggal di TKP dan satu lagi meninggal saat dirujuk ke RSSA Malang.
Usai kecelakaan tersebut, Pemkab beserta jajaran kepolisian memberlakukan larangan bagi kendaraan berat lewat jalur Pandaan-Prigen. Tapi, larangan itu masih bersifat sementara.
Atas kecelakaan tersebut, Satlantas Polres Pasuruan sudah menetapkan Saimun sebagai tersangkanya. Lalu bagaimana dengan PT Erindo Mandiri sebagai pemilik truk kontainer tersebut? "Peristiwa ini tidak ada kaitannya dengan perusahaan atau pemilik kendaraan. Kecelakaan yang terjadi dialami oleh orang per orang. Sebagai seorang sopir, seharusnya dia (Saimun) sudah mengecek kendaraannya, sebelum menjalankannya," terang Wakapolres Pasuruan Kompol M. Ghufron kemarin.
Itu berarti, Saimun yang membawa kendaraan, dia pula yang bertanggung jawab penuh. "Kalau dia tidak membawa kendaraan (truk kontainer), maka kecelakaan tidak mungkin terjadi. Dan kecelakaan bisa dihindari jika sopir melakukan kontrol sebelum menjalankan kendaraannya," kata Wakapolres.
Saimun sendiri kemarin mengaku sangat menyesali terjadinya kecelakaan yang sampai merenggut sepuluh nyawa itu. Tapi, ia menegaskan itu bukan kesengajaan. "Ini semua musibah, dan tidak bisa saya hindari," ujarnya. (jawapos.com)
Dalam peristiwa itu, Saimun yang warga Desa Jatirejes, Nganjuk, ikut terluka di wajah dan kakinya. Sejak kejadian itu hingga kemarin (23/2), Saimun dirawat di RSUD Bangil.
Saat ditemui di ruang perawatan unit bedah RSUD Bangil kemarin, Saimun tergolek di atas drakbaar. Dia sudah sadar. Tapi, tangan kanannya terborgol. Di depan ruangan Saimun, anggota polisi Brigadir Wicaksono berjaga. Walau dijaga polisi, Saimun tetap boleh dibesuk keluarganya.
Ditanya soal kecelakaan Sabtu lalu, Saimun yang sudah sembilan tahun jadi sopir PT Erindo Mandiri, mengaku saat itu truk yang disopirinya remnya blong. "Saya tidak menyangka rem truk bakal blong. Sebab sewaktu keluar dari perusahaan, rem berfungsi dengan baik. Bahkan ukurannya di atas tujuh," kata bapak dua anak tersebut.
Tak ayal, ketika keluar dari pabriknya, Saimun yakin benar bahwa truknya dalam kondisi prima. Saat itu Saimun menyetir sendirian. Keluar dari lokasi, Saimun mengaku menjalankan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
Tiba-tiba sekitar seratus meter keluar dari lokasi perusahaan, ia merasakan ada yang janggal dengan rem truknya. "Jalanan kan menurun. Lha sewaktu saya injak pedal rem, kok sepertinya tidak ada angin," katanya sembari mengingat.
Dan seperti diberitakan sebelumnya, Sabtu itu sekitar pukul 17.30 truk kontainer milik PT Erindo Mandiri yang memuat sekitar 20 ton air mineral itu terus melaju turun di jalur Pandaan-Prigen, Desa Gambiran, Prigen. Truk melesat cepat.
Tahu ada yang tidak beres dengan kendaraannya, Saimun berusaha membanting setir. "Saya sudah coba menabrakkan truk ke pohon yang ada di pinggir jalan. Ternyata truk tak kunjung berhenti juga," katanya.
Akibatnya, truk menghantam kendaraan yang ada di depannya. Mulai dari mobil pikap, Xenia dan dua sepeda motor. Diketahui, tabrakan beruntun itu berakibat fatal.
Sepuluh orang meningal dunia. Sembilan orang meninggal di TKP dan satu lagi meninggal saat dirujuk ke RSSA Malang.
Usai kecelakaan tersebut, Pemkab beserta jajaran kepolisian memberlakukan larangan bagi kendaraan berat lewat jalur Pandaan-Prigen. Tapi, larangan itu masih bersifat sementara.
Atas kecelakaan tersebut, Satlantas Polres Pasuruan sudah menetapkan Saimun sebagai tersangkanya. Lalu bagaimana dengan PT Erindo Mandiri sebagai pemilik truk kontainer tersebut? "Peristiwa ini tidak ada kaitannya dengan perusahaan atau pemilik kendaraan. Kecelakaan yang terjadi dialami oleh orang per orang. Sebagai seorang sopir, seharusnya dia (Saimun) sudah mengecek kendaraannya, sebelum menjalankannya," terang Wakapolres Pasuruan Kompol M. Ghufron kemarin.
Itu berarti, Saimun yang membawa kendaraan, dia pula yang bertanggung jawab penuh. "Kalau dia tidak membawa kendaraan (truk kontainer), maka kecelakaan tidak mungkin terjadi. Dan kecelakaan bisa dihindari jika sopir melakukan kontrol sebelum menjalankan kendaraannya," kata Wakapolres.
Saimun sendiri kemarin mengaku sangat menyesali terjadinya kecelakaan yang sampai merenggut sepuluh nyawa itu. Tapi, ia menegaskan itu bukan kesengajaan. "Ini semua musibah, dan tidak bisa saya hindari," ujarnya. (jawapos.com)